MUSE

Jumat, 16 April 2010

MUSE adalah grup musik rock alternatif asal Inggris. Band ini dibentuk di Devon pada tahun 1994. Anggota band ini terdiri dari tiga orang, yaitu Matthew Bellamy (vokalis, gitaris, pianis), Dominic Howard (drummer), dan Chris Wolstenholme (bassis). Muse memiliki genre musik yang memadukan rock, rock progresif, musik klasik, dan elektronika. Muse juga dikenal dengan konser live yang memukau, bercirikan permainan yang energik dan efek visual yang mengagumkan. Muse telah merilis empat album rekaman, dimulai dengan Showbiz pada tahun 1999, diikuti Origin of Symmetry di tahun 2001, Absolution di tahun 2003, dan album terbarunya Black Holes & Revelations di tahun 2006. Sepanjang karirnya, Muse telah memenangkan berbagai penghargaan termasuk 5 MTV Europe Music Awards, 5 Q Awards, 4 NME Awards dan 2 Brit Awards.

Sejarah MUSE

Pembentukan (1992-1997)
Pada tahun 1990-an awal, anggota-anggota Muse memiliki grup musik masing-masing di sekolah mereka. Pembentukan MUSE berawal ketika Matthew Bellamy yang berumur 14 tahun berhasil lulus audisi untuk masuk grup Dominic Howard. Ketika bassis mereka memutuskan untuk keluar, mereka meminta teman baik mereka, Chris Wolstenholme, untuk bergabung dan mempelajari gitar bass. Chris sempat menolak, tapi akhirnya memutuskan untuk bergabung. Band baru ini sempat banyak berganti nama, antara lain 'Gothic Plague', 'Carnage Mayhem', 'Fixed Penalty', dan 'Rocket Baby Dolls', sampai akhirnya menggunakan nama Muse yang dikenal sekarang. Urutan kronologis pergantian nama band ini tidak jelas, karena Muse memberikan informasi yang tidak konsisten pada wawancara-wawancara mereka.
Pada tahun 1994, masih dengan nama band 'Rocket Baby Dolls', mereka memenangkan kompetisi Battle of the Bands lokal. Dan tak lama setelah ini, mereka mengganti nama menjadi Muse, berpindah dari Teignmouth dan mulai tampil di beberapa klub seperti Cavern di Exeter.

Setelah beberapa tahun membangun komunitas penggemar, Muse memainkan konser-konser pertama mereka di London dan Manchester. Band ini lalu bertemu dengan Dennis Smith, pemilik perusahaan rekaman Sawmills, yang bermarkas di Cornwall, Inggris.
Pertemuan ini akhirnya dilanjutkan dengan rekaman resmi pertama Muse, yaitu E.P. self-titled (berjudulkan nama band) yang menggunakan label Sawmills, Dangerous. Lalu E.P. ke-2 mereka, Muscle Museum, meraih peringkat ke-3 pada tangga lagu indie dan mendapat perhatian dari jurnalis musik Inggris yang berpengaruh, Steve Lamacq, serta majalah musik mingguan Inggris, NME. Dennis Mills lalu membantu membangun perusahaan musik Taste Media, yang dibuat khusus untuk Muse (Muse menggunakan label ini untuk 3 album pertama mereka). Ini merupakan hal yang sangat menguntungkan untuk Muse karena mereka dapat mempertahankan keunikan musik mereka pada awal karir mereka.

Walaupun E.P. ke-2 mereka cukup sukses, banyak perusahaan rekaman Inggris tetap enggan mendukung Muse, dan banyak orang di industri musik menganggap musik Muse terlalu mirip dengan Radiohead sebagaimana halnya band-band baru asal Inggris lain saat itu. Namun, perusahaan Amerika Serikat Maverick Records mempromosikan Muse untuk tampil beberapa kali di Amerika Serikat hingga akhirnya mengontrak mereka pada tanggal 24 Desember 1998. Sepulangnya dari Amerika, Taste Media mendapatkan kontrak untuk Muse di perusahaan-perusahaan rekaman di Eropa dan Australia. John Leckie, yang menjadi produser album untuk Radiohead, Stone Roses, "Weird Al" Yankovic dan The Verve, dijadikan produser album pertama Muse, Showbiz.
Peluncuran album ini diikuti dengan penampilan pendukung pada tur band Foo Fighters dan Red Hot Chili Peppers di Amerika Serikat. Pada tahun 1999 dan 2000, Muse bermain pada beberapa festival musik di Eropa dan Australia, dan mengumpulkan banyak penggemar baru di Eropa Barat.

Sumber : wikipedia

Kerusuhan Tanjung Priok

Kerusuhan Tanjung Priok Direkonstruksi

Jum'at, 04 Juni 2004 | 18:52 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Pengadilan ad hoc HAM Jakarta Pusat melakukan rekonstruksi kerusuhan Tanjung Priok yang terjadi 12 September 1984. Rekonstruksi itu digelar untuk mengetahui lebih jelas mengenai kasus pelanggaran HAM berat yang memakan korban 23 orang tewas akibat ditembak aparat keamanan. "Mereka yang didakwakan ini kan pelaku lapangan. Jadi kita ingin melihat kejadiannya di sana," kata Andi Samsangaro, ketua majelis hakim, Jumat (4/6) di Jakarta.

Persidangan lapangan dengan terdakwa Sutrisno Mascung dkk., anggota Regu III Arhanudse-6 ini dimulai dengan menyusuri panggung ceramah di Jalan Sindang, Jakarta Utara, tempat massa pimpinan almarhum Amir Biki berceramah menuju Mapolres Jakarta Utara. Panggung ceramah terletak persis di depan Jalan Lorong 102. Rumah itu sekarang ditempati Yayasan Masjid Al Mutaqarrabin.

Menurut Husein Syafei, saksi korban dalam kasus itu, massa yang ingin membebaskan keempat rekan mereka yang ditahan di Makodim 0502 Jakarta Utara itu bergerak dari Jalan Sindang menuju Mapolres Jakarta Utara. Setiba di persimpangan Pasar Jaya Rawa Badak, sebagian massa bergerak lurus ke Jalan Sindang dan sebagian melewati Jl. Anggrek.

Dalam perjalanannya Amir Bunadi, saksi lainnya, mengungkapkan massa sempat melempari Gereja Masehi Advent Ketujuh di Jalan Anggrek 17. "Pada saat itu saya pribadi memang berniat jihad," kata Amir Bunadi saat ditanya alasan pelemparan batu tersebut. Husein sendiri tidak mengetahui adanya pelemparan batu itu karena ia sedang berada di depan sambil membawa bendera.

Ribuan orang itu jumlahnya kian bertambah. Penambahan itu, menurut keterangan Amir Bunadi karena saat melintasi Bioskop Lido, bertepatan dengan saat bubaran pegawai toko dan penonton bioskop.

Massa kemudian bergerak menuju Jalan Yos Sudarso. Di ujung Jalan Sindang, dekat persimpangan jalan tersebut dengan Jalan Yos Sudarso, Nurdin, saksi, mengungkapkan melihat lima orang berpakain hitam-hitam yang membawa senjata tajam. "Mereka itu pengawal penceramah. Tugasnya hanya mengawal," kata Nurdin.

Massa kemudian bergerak sambil meneriakkan Allahu Akbar sambil melewati Jalan Yos Sudarso. Mendekati Mapolres Jakarta Utara, menurut Husein Syafei, ia telah berhadapan dengan barisan pasukan Regu III Arhanudse-6. "Saya juga tidak melihat adanya truk tentara," katanya.

Sementara itu, menurut versi terdakwa Sutrisno Mascung, pimpinan pasukan itu, mereka tidak bisa membentuk barisan karena saat masih berada di dalam truk Reo. Pasukan yang diangkut dengan truk itu baru datang dari arah berlawanan dengan massa dan baru sempat memutar, tak jauh di depan Mapolres Jakarta Utara. "Massa telah memadati jalan dan di dalam truk saya dengar bunyi batu dilempar," katanya.

Ketika massa tiba di depan polres, Nurdin, saksi melihat seorang aparat bertubuh tinggi --yang menurutnya seorang pemimpin--, menggunakan pengeras suara mengucapkan assalam'u alaikum dan menanyakan pimpinan massa tersebut. Setelah itulah meletus kerusuhan berdarah tersebut.

Satu aparat, menurut Sutrisno, telah bercucuran darah akibat lemparan batu. Zulfatta, korban tersebut terkena lemparan batu di kepalanya. Husein yang berada di depan massa terkena tembakan di kaki. Ia juga seorang warga ditembak di samping kiri dan kanannya. Massa yang tidak terbendung itu akhirnya ditembak hingga menewaskan 23 orang dan satu orang aparat luka akibat lemparan batu.

Rekonstruksi ini kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan barang bukti berupa truk Reo yang digunakan pasukan Arhanudse-6 dan untuk mengangkat korban kerusuhan itu. Pemeriksaan dilakukan di Gudang PT Halisa Indah Raya, Kamal, Jakarta Utara. Hasilnya dari empat truk yang diduga digunakan itu ternyata hanya ada tiga buah saja yang masih bisa dikenali. Tiga truk itu diantaranya bernomor 2977, 2978 dan 2987 sedangkan yang sisanya yakni nomor 2981 sudah tidak bisa diketahui nomor casisnya. Terdakwa sendiri saat ditanyai tidak mengetahui nomor truk yang mereka pakai.

Persidangan ini direncanakan akan dilanjutkan dengan pemeriksaan senjata SKS yang digunakan Regu III Arhanudse-6 dalam peristiwa tersebut. Pemeriksaan barang bukti itu akan dilakukan di Sidoarjo, Jumat pekan depan.

sumber : tempointeraktif.com

kerusuhan tanjung priok

kerusuhan tanjung priok
kerusuhan karena perebutan tanah